Jembatan, Nyadran dan Ingatan - Elsam.or.id Jembatan, Nyadran dan Ingatan Oleh Lilik HS

Jembatan, Nyadran dan Ingatan

PerspektifNews, 28 April 2013

Oleh: Lilik HS

Film Jembatan Bacem   dibuka dengan adegan orang-orang melintas di atas sebuah jembatan, lantas menaburkan kembang ke sungai. Kelopak-kelopak mawar, berwarna merah dan putih itu berhamburan, mengambang, lantas hanyut ditelan arus.

Diiringi suluk garapan Ki Dalang Sri Joko Raharjo yang terdengar menyayat, lantas gambar beralih ke SasonoMulyo, salah satu bangunan di kompleks Kasunanan Surakarta yang sejak 1 Desember 1965 sampai 30 Mei 1967 menjadi kamp penampungan tapol laki-laki. Data tata usaha kamp mencatat, pada 9 Maret 1966 ada 1.931 ditahan disana.

Mulyadi, salah satu korban, menuturkan kesaksiannya ketika ditahan di SasonoMulyo,

"Waktu sore dan malam adalah waktu dibon. Sekitar jam 19.00 – 20.000 datang truk, di depan sana. Petugas membukakan pintu. Krittt. Petugas masuk, mic ditiup. Tahanan yang tadinya santai, jadi diam seribu basa. Tidak tahu siapa yang akan dibon. Kami hanya saling pandang-pandangan…”

Gambar pun beralih ke wajah Bibit, seorang saksi pembuangan mayat di jembatan Bacem. Rumahnya tak jauh dari jembatan. Hampir tiap malam ia mendengar bunyi letusan pistol tanpa henti, hingga dini hari.

"Malam itu berapa dor. Kalau dor ke dua (puluh) lima, (berarti) yang mati ya dua (puluh) lima. Dor seratus yang mati ya seratus….”

Suatu pagi, ia menyaksikan jasad-jasad tersangkut di semak-semak di tepi sungai. Dua orang berpakaian loreng dan membawa senjata memaksanya menarik dan menghanyutkannya kembali.

“Kalau tidak mau, ya ditembak..” tuturnya. Bayangan jasad-jasad mengambang itu hingga kini terus melekat di kepalanya. Salah satu adiknya, yang menerima perintah yang sama, hingga kini masih didera trauma.

FILM documenter Jembatan Bacem adalah produksi ELSAM dan Pakorba Solo, 2012. Berdurasi 24 menit, film ini bertutur tentang 3 orang saksi penghilangan paksa dan 2 orang survivor yang lolos dari upaya penghilangan paksa di atas Jembatan Bacem pada tahun 1965 dan 1966.

Jumat, 27 April 2013, film pertama kali diputar di Goethe Haus, Jakarta Pusat. Ruangan berkapasitas 300 orang itu nyaris terisi penuh. Seperti film-film documenter sejenis, film ini meramu testimony korban, dilengkapi dengan deretan sketsa yang mendetilkan potongan-potongan peristiwa. YayanWiludiharto, sang sutradara menyatakan syuting film dimulai 2005 hingga 2012, ketika ia akhirnya menemukan Barjo, salah seorang saksi peristiwa yang lolos dari pembantaian maut di Jembatan Bacem.

Suasana hening ketika Barjo berkisah,

“Tiap malam ada 5-10 orang yang diciduk. Jam 12 malam dipanggil semua. Ada truk di depan. Dibawa kemana nggak tau. Saya dipanggil nomer 18.” Barjo terdiam sejenak.

Tentara menyuruhnya tidur telentang di atas sebilah papan, kemudian bagian dada, tangan dan kakinya diikat dengan seutas tali. Melekat dalam papan, mereka digotong dan dimasukkan ke dalam truk. Diletakkan berjajar dan bertumpuk-tumpuk. Barjo ingat, ada sekitar 3-4 tumpuk. Ia berada di tengah-tengah. Sampai di jembatan Bacem, tubuh mereka, yang melekat di papan itu, disenderkan di tiang jembatan. Satu per satu, ditembak mereka dari jarak dekat. Byuurrr..tubuhmerekapun terjungkal ke dalam sungai.

“Saya ini mesti mati. Tapi sebelum mati, saya harus berbuat apa untuk hidup…” ucap Barjo dengan bibir bergetar. Entah darimana muncul keberanian, sebelum gilirannya ditembak, Barjonekad mencebur ke sungai. Habis-habisan ia berusaha agar tak tenggelam. Barjo lolos dari maut. Tapi hanya sekejap. Di tepi sungai, moncong bedil tentara sudah menempel di ujung hidungnya. Ia kembali tertangkap. Lantas dibuang ke Nusakambangan dan Pulau Buru, selama 13 tahun.

JEMBATAN Bacem terletak di perbatasan antara Solo dan Wonogiri. Di bawahnya mengalir anak sungai Bengawan Solo. Masyarakat sekitar menyebutnya Kreteg Bacem, konon dikenal sebagai lokasi angker. Ada saja kisah-kisah mistik dan menyeramkan berhamburan dari sana. Jembatan Bacem yang asli kini hanya menyisakan fondasi. Kini sudah dibangun jembatan yang lebih yang lebih kokoh di sisinya.

Selain masyarakat sekitar, tak banyak yang tahu bahwa jembatan itu menjadi saksi ratusan orang yang dibunuh dan dibuang ke sungai, pada peristiwa 1965. Bagi para korban dan keluarga, jembatan itu adalah tempat mereka berziarah, mengenang dan mendoakan suadara-saudara mereka yang hilang tak tahu rimbanya.

Pada 2 Oktober 2005, 40 tahun setelah peristiwa, korban yang tergabung dalam Pakorba Solo melakukan acara nyadran, lengkap dengan pagelaran wayang dan tabur bunga, yang dihadiri masyarakat dan pejabat setempat. Dalam masyarakat Jawa, nyadran adalah sebuah ritual penting untuk mendoakan arwah saudara-saudara mereka.

Nyadran di Jembatan Bacem kemudian diperingati setiap tahun. Di Bali, masyarakat melakukan ritual ‘ngaben tanpa tubuh’, bagi saudara mereka korban 1965 yang dihilangkan. Ketika pemerintah melarang masyarakat melakukan penggalian jasad korban, masyarakat tetap bersikukuh melakukan ngaben, dengan mengambil secuil tanah dari lokasi yang diyakini sebagai tempat penguburan.

Film ini diakhiri dengan sebuah adegan menawan. Sebuah rakit dari batang pisang, dipasangi beberapa bendera merah putih dari kertas, meluncur mendekati jembatan. Lalu dari atas jembatan, kembang setaman ditaburkan. Seember besar ikan lele dituang ke sungai. Beberapa ekor burung dilepas ke udara. Ini adalah ritual iwen-iwen, sebuah symbol pembebasan bagi arwah korban.

Tembang LadrangLayung-Layung, garapan Ki Sri Joko Raharjo, yang mengiringi prosesi nyadran membuat suasana semakin mengiris. Gending (lagu) itu dimaksudkan untuk “mengantar jiwa-jiwa yang dikubur tanpa doa di bawah banjir Solo 1966”.

Ana tangis layung-layung
Tangise wong wedi mati
Gedhongonokuncenono
Mangsa wurunga wong mati

Ada tangis merintih
Tangis orang takut mati
Meski di gedung terkunci
Tetap saja orang akan mati

Film Jembatan Bacem, sesungguhnya menyimpan banyak potensi untuk menjadi suguhan yang memikat. Ada peristiwa nyadran, yang disebut Hilmar Farid, sejarawan, dalam diskusinya, sebagai peristiwa kultural yang luar biasa. Atau meletakkan Jembatan Bacem, sebagai pintu masuk bertutur tentang pembantaian massal di Solo, bukan sekadar sebagai lokasi eksekusi semata. Menarik juga kisah survival Pak Barjo, yang nekat melompat ke sungai untuk menawar kematiannya.

Ada juga kesempatan mencantolkan Jembatan Bacem dengan ingatan kolosal tentang Bengawan Solo. Jembatan Bacem, di bawahnya mengalir anak sungai Bengawan Solo. Siapa tak mengenal sungai terpanjang di Pulau Jawa, beserta ceceran kisah yang begitu sering terdengar : tentang airnya yang memerah, dengan mayat-mayat mengambang di atasnya?

Potensi dramatis, misalnya memakai jembatan sebagai metafora pengait ingatan masa lalu dan masa kini; penghubung generasi lalu dan kini, adegan pelepasan burung dan ikan lele sebagai simbol kebebasan, sangat ciamik, yang sungguh sayang, justru tidak ditonjolkan.

Film ini mengaduk semua materi ciamik itu dalam satu mangkok. Potensi menjadi suguhan cemerlang dan menggetarkan dalam bentuk film, meleleh dalam eksekusinya. Meski begitu,  sebagai menara ingatan, ia harus ditonton dan disebarluaskan. Seperti kata DandhyLaksono, jurnalis dan pembuat film documenter dalam diskusinya : usaha untuk mereproduksi ingatan kolektif lewat film-film seperti ini, harus terus-menerus dilakukan.**

http://www.perspektifnews.com/3574/jembatan-nyadran-dan-ingatan/#.UXyplWTcY1g.twitter




Related Articles