15 Tahun Elsam Perjuangan Tanpa Akhir - Elsam.or.id 15 Tahun Elsam Perjuangan Tanpa Akhir

15 Tahun Elsam

Perjuangan Tanpa Akhir

Senin, 1 September 2008 | 00:17 WIB

Meski telah melalui waktu 10 tahun setelah runtuhnya Orde Baru, perjuangan demokrasi dan hak asasi manusia belum selesai hingga ini. Kepentingan kekuasaan masih mengancam jalannya proses pembelajaran demokrasi dan penghormatan HAM.

Itulah pesan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) kepada pembela HAM lainnya dan juga warga biasa dalam sebuah orasi berjudul Dari Luar ke Dalam: Pembela HAM di Tengah Ragam Ruang Kuasa di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (27/8). Orasi itu disampaikan Kamala Chandrakirana, anggota perkumpulan Elsam, dalam perayaan 15 tahun organisasi itu.

Elsam ingin berefleksi sekaligus menyampaikan peringatan.

Pada masa kini para pemburu kekuasaan tidak segan-segan membonceng simbol-simbol agama, budaya, dan adat, serta nasionalisme. Demi kuasa, para pemburu kekuasaan tanpa ragu memupuk rasa takut dan rela menjadikan perbedaan sebagai sumber ancaman yang mematikan.

”Mereka tak berpikir dua kali untuk menggunakan alat kekerasan dan memorakporandakan ikatan kebersamaan demi memenangi perebutan kekuasaan,” ujar Kamala.

Dikhawatirkan jika para pengutama kepentingan kekuasaan itu mendominasi arena politik lokal maupun nasional, langkah pijakan sebagai bangsa tak akan mengalami kemajuan, bahkan terjerumus pada kemunduran.

Lantas bagaimana mencegah para pengutama kepentingan kekuasaan itu mendominasi arena politik? Elsam punya strategi. Para pembela HAM telah memasuki ruang-ruang kuasa yang kondusif bagi demokrasi, keadilan, dan HAM. Tujuannya untuk memperkuat posisi melawan kekuatan otoriterisme baru. Ruang yang telah dimasuki alumni Elsam di antaranya adalah Komnas HAM dan Lembaga Perlindungan Saksi Korban.

Strategi itu bagai pisau bermata dua. Bisa berbalik jika tidak tahan akan godaan. ”Inilah tantangan besar dalam dekade kedua era reformasi bagi pembela HAM yang ada di ruang kuasa, yakni keserakahan arogansi atau ketidakseriusan dalam mengejar tujuan,” tandas Kamala. (SIWI YUNITA CAHYANINGRUM)

 




Artikel Terkait