Penculikan Anggota Kelompok Tani Anak Nagari Rantau Pasaman dan 2 Aktifis Oleh Security PT. Anam Koto - Elsam.or.id Penculikan Anggota Kelompok Tani Anak Nagari Rantau Pasaman dan 2 Aktifis Oleh Security PT. Anam Koto

Penculikan Anggota Kelompok Tani Anak Nagari Rantau Pasaman dan 2 Aktifis Oleh Security PT. Anam Koto

 

Pada hari Selasa, 29 November 2011 sekitar pukul 15.00 wib, dua aktifis, yakni Agustinus Carlo dari Sawit Watch bersama Erik dari Walhi Sumbar, serta 5 orang anggota kelompok Tani Anak Nagari Rantau Pasaman, yakni Warjo, Dasril, Ali Usman, Heru, dan Thamrin masuk ke lahan garapan masyarakat yang telah dirusak oleh pihak PT. Anam Koto.

Tidak lama kemudian, puluhan pegawai perusahaan yang terdiri dari bagian Humas dan security perusahaan menghadang, mengintimidasi dan menangkap mereka semua serta membawanya ke kantor perusahaan pada pukul 18.00 wib dengan menggunakan mobil dan motor.

Pihak security perusahaan menuduh mereka melakukan pelanggaran terhadap pasal 551 KUHP, yakni larangan berjalan di atas tanah yang dilarang pemiliknya.

Setelah diculik ke kantor perusahaan, mereka kemudian dibawa oleh security ke Mapolres Pasaman Barat. Pada awalnya pihak security perusahaan ingin mengadukan perbuatan mereka ke Polisi, namun akhirnya hal tersebut tidak dapat dilakukan karena memang sebenarnya penangkapan yang dilakukan security perusahaan tidak dibenarkan dan tidak ada perbuatan pidana yang dilakukan warga dan dua pendamping tersebut.

Akhirnya pada sekitar pukul 22.00 wib mereka dikembalikan dari Mapolres Pasaman Barat dan kembali ke Sekretariat Kelompok Tani Pasaman Barat. Atas penculikan yang telah dilakukan pihak security perusahaan, pada pukul 23.00 wib warga mengadukannya ke Polres Pasaman Barat dengan tuduhan perbuatan penculikan, penyekapan serta pecemaran nama baik yang dilakukan pihak perusahaan.

Sekilas tentang konflik

PT. Anam Koto sebuah perusahaan yang memiliki Hak Guna Usaha seluas 4.740  hektare untuk usaha perkebunan sawit dan memiliki Hak Guna Bangunan seluas 37,40 hektare yang keluar pada tahun 1999. Mengantongi Izin Usaha Perkebunan (IUP) pada Tahun 2008 dengan luas 2.285,1 hektare sementara kelebihan Hak Guna Usaha seluas 2.454,9 hektare ditelantarkan berdasarkan hasil Survey Lapangan yang dilakukan Tim yang pimpin oleh Dinas Perkebunan Sawit Pasaman Barat dan hasilnya survey tersebut menyebutkan bahwa lahan Hak Guna Usaha PT. Anam Koto yang dipergunakan sesuai dengan peruntukannya seluas 2.285.1 hektare kemudian kelebihannya seluas 2.454,9 hektare terlantar dan telah diusulkan Bupati Pasaman Barat kepada Badan Pertanahan Nasional untuk direvisi.

Secara Posisi kawasan PT. Anam Koto memiliki luas 9.756 hektare. 4.978,6 hektare merupakan lahan yang tidak memiliki izin, baik berupa Izin Usaha Perkebunan dan diluar dari Hak Guna Usaha serta Hak Guna Bangunan. Pada Tahun 1990 Niniak Mamak Aie Gadang dan Niniak Mamak Muaro Kiawai sebagai
pemilik ulayat membuat kesepakatan dengan PT. Anam Koto bahwa PT. Anam Koto akan memberikan Plasma sekurang-kurangnya 10% dari lahan yang diserahkan. Hingga saat  ini sudah 21 tahun lamanya kesepakatan itu tidak pernah direalisasikan kepada masyarakat. Tahun 2000 kesepakatan itu pernah ditagih oleh masyarakat, akan tetapi mereka dihadapkan dengan gas air mata dan ditembaki dengan membabi buta oleh Kepolisian, sehingga banyak korban berjatuhan. Diperlakukan seperti itu membuat masyarakat ini lemah hingga surut dengan perjuangan mereka, kemudian semangat itu kembali muncul pada tahun 2006 berbentuk kelompok kecil hingga menjadi besar di tahun 2010 yang terangkum dalam satu wadah Kelompok Tani Anak Nagari Rantau Pasaman.




Artikel Terkait