KEBEBASAN BERAGAMA ATAU BERKEYAKINAN <br> Sidang Gafatar Aceh: <br> Majelis Hakim Buka Sidang Tanpa Kehadiran Penasihat Hukum - Elsam.or.id KEBEBASAN BERAGAMA ATAU BERKEYAKINAN
Sidang Gafatar Aceh:
Majelis Hakim Buka Sidang Tanpa Kehadiran Penasihat Hukum

Selasa, 5 Mei 2015

ELSAM, Banda Aceh– Pengadilan Negeri Banda Aceh kembali menggelar sidang untuk kasus dugaan penodaan agama oleh organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), pada Selasa (5/5). Sidang ke-5 untuk kasus tersebut, yang dimulai pada pukul 11.00 WIB, sempat diprotes oleh penasihat hukum para terdakwa karena majelis hakim membuka sidang tanpa kehadiran penasihat hukum.

“Semestinya setelah semua pihak hadir dalam ruang sidang barulah Majelis Hakim membuka sidang dan menyatakan sidang terbuka untuk umum,” protes salah seorang penasihat hukum terdakwa kepada Majelis Hakim.

Sidang kelima, dengan agenda pemeriksaan saksi fakta terakhir Jaksa Penuntut Umum (JPU) ini, berlangsung lebih tertib jika dibandingkan sidang sebelumnya, walaupun sekitar 100 orang pengunjung sidang merupakan pihak yang menolak keberadaan Gafarar. (Baca: Sidang Gafatar Aceh: Pengacara Terdakwa Dihujat Pengunjung).

Pada sidang kali ini, JPU menghadirkan mantan Kabid Pendidikan Gafatar Aceh Lia Zaradiva dan Dedi Saputra. Sebelumnya, saksi Lia Zaradiva sudah pernah dihadirkan oleh JPU untuk memberikan kesaksian dalam persidangan untuk salah satu terdakwa T. Abdul Fatah. (Baca: Mengaku Ditekan, Saski JPU Cabut BAP Kepolisian). Dalam sidang kelima ini, Lia Zaradiva dihadirkan untuk memberikan kesaksiannya terhadap 5 terdakwa lainnya, yakni Ridha Hidayat, Fuadi Mardhatillah, M. Althaf Mauliyul Islam, Musliadi, dan Ayu Ariestyana.

Dalam kesaksiannya, Lia Zaradiva kembali menyatakan banyak keterangannya dalam BAP dibuat atas tekanan pihak polisi. Ia juga menyatakan Gafatar merupakan organisasi sosial, bukan seperti yang dituduhkan oleh JPU bahwa Gafatar merupakan organisasi missionarisme dan menyebarkan ajaran Millata Abraham yang dibawa oleh Ahmad Mussadeq.

Sementara saksi Dedi Saputra menyatakan tidak menahu mengenai tuduhan JPU tentang ajaran sesat yang disebarkan oleh Gafatar.

“Saya tidak tahu, saya hanya bertugas menjaga parkir Honda (sepeda motor – red) dan keamanan kantor di malam hari,” jawabnya.

Ia juga menegaskan bahwa ia tidak menahu tentang Mesias, Millata Abraham, dan kedudukan Ahmad Mussadeq dalam organisasi Gafatar. Ia hanya menjawab beberapa kegiatan yang dilakukan Gafatar yang diketahui olehnya.

“Apa yang salah dengan kegiatan donor darah, bakti sosial dan olah raga?” tukasnya.

Sebelumnya, 6 orang pengurus Gafatar ditangkap oleh Kepolisian dari Mapolresta Banda Aceh pada 7 Januari 2015 karena diduga menyebarkan ajaran Millata Abraham. Keenam orang pengurus tersebut antara lain, ketua DPD Gafatar Aceh T. Abdul Fatah; ketua Gafatar Kota Banda Aceh Muhammad Althaf Mauloyul Islam; Wakil Ketua Gafarar Aceh Musliadi; Kabid Informasi Gafatar Aceh; Sekretaris Gafatar Aceh Ayu Ariestiana; dan, Ridha Hidayat. (Baca: Akibat Fatwa MPU, Pengurus Gafatar Aceh Diadili).

Sidang selanjutnya akan dilaksanakan pada tanggal 12 Mei 2015 dengan agenda mendengar keterangan saksi ahli dari JPU.

Penulis: Yulfan, SH/Al Myzan

Editor: Ari Yurino


Artikel Terkait