KEBEBASAN BERAGAMA ATAU BERKEYAKINAN <br> Sidang Gafatar Aceh <br> Pengacara Terdakwa Dihujat Pengunjung Sidang - Elsam.or.id KEBEBASAN BERAGAMA ATAU BERKEYAKINAN
Sidang Gafatar Aceh
Pengacara Terdakwa Dihujat Pengunjung Sidang

Selasa, 28 April 2015

ELSAM, Banda Aceh– Sidang kasus dugaan penodaan agama oleh organisasi Gafatar diwarnai kericuhan. Pasalnya, salah satu pengunjung pada sidang keempat yang digelar Pengadilan Negeri Banda Aceh pada Selasa (28/4) itu maju ke depan meja Majelis Hakim dan mengambil foto penasihat hukum terdakwa.

“Inilah para pengacara sesat,” teriak salah satu pengunjung itu.

Tidak lama kemudian, pengunjung tersebut digiring keluar ruang sidang oleh pihak kepolisian karena dianggap menghina proses peradilan.

Untuk menenangkan pengunjung, majelis hakim menjelaskan bahwa penasihat hukum membela hak hukum terdakwa dan merupakan bagian dari perlindungan Hak Asasi Manusia. Pembelaan itu, jelasnya, merupakan keharusan dalam proses peradilan.

“Persoalan salah benar merupakan urusan majelis hakim yang menentukan,” tegas Hakim Ketua Syamsul Qamar, M.H kepada pengunjung.

Sebagian besar pengunjung sidang didominasi oleh kalangan guru dan pelajar kota Banda Aceh. Selain itu, juga terlihat puluhan anggota ormas Front Pembela Islam (FPI), perwakilan pemerintah kota Banda Aceh, Satpol PP, Wilayatul Hisbah (polisi syariat), mahasiswa, perwakilan LSM, keluarga terdakwa serta media massa.

Dalam sidang ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga menanyakan legalitas penasihat hukum terdakwa.

“Yang Mulia, kami minta dilakukan verifikasi berita acara sumpah advokat untuk penasihat hukum terdakwa, dan kami minta hanya yang memiliki berita acara sumpah yang dapat melakukan pembelaan di ruang sidang ini,” ujar salah seorang JPU Syarifah Rosnizar. A, SH.

Setelah panitera melakukan verifikasi, majelis hakim kemudian tetap memutuskan penasihat hukum untuk melakukan pembelaan di ruang sidang.

Persidangan yang berlangsung kurang lebih tiga jam itu jugakembali diwarnai pencabutan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Kepolisian oleh saksi dari JPU. Sekretaris DPK Gafatar Banda Aceh Dewi Novita Sari Binti Pujianto dan Bendahara DPK Gafatar Kota Banda Aceh Sarah Riska Binti Ibrahim yang diajukan JPU sebagai saksi menyatakan merasa ditekan, diarahkan dan diintervensi saat di BAP oleh kepolisian. Mereka juga menyatakan Gafatar bukan organisasi yang mengatasnamakan satu agama dan memiliki aliran keagamaan. Gafara, menurut mereka, merupakan organisasi sosial yang bersifat nasional.

Atas kesaksian ini, Majelis Hakim akan memanggil penyidik pemeriksa untuk meminta keterangan terkait adanya tekanan dan intervensi pada saat melakukan BAP di kepolisian pada sidang mendatang. Sidang selanjutnya akan dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2015 dengan agenda pembuktian lanjutan.

Sebelumnya 6 orang pengurus Gafatar ditangkap Kepolisian Mapolresta Banda Aceh di desa Lamgapang, Kec. Kreung Barona Jaya, Kab. Aceh Besar pada 7 Januari 2015 karena diduga melakukan penodaan agama. Keenam pengurus Gafatar tersebut antara lain: Ketua DPD Gafatar Aceh T. Abdul Fatah; Ketua Gafatar Kota Banda Aceh Muhammad Althaf Mauloyul Islam; Wakil Ketua Gafatar Aceh  Musliadi; Kabid Informasi Gafatar Aceh Fuadi Mardhatillah; Sekretaris Gafatrar Aceh Ayu Ariestiana: dan Ridha Hidayat.

Penulis: Al Myzan/Yulfan, SH

Editor: Ari Yurino 


Related Articles