PENGUATAN KORBAN <br> Pembangunan Koperasi, Memberdayakan Perekonomian Korban - Elsam.or.id PENGUATAN KORBAN
Pembangunan Koperasi, Memberdayakan Perekonomian Korban

Minggu, 29 Maret 2015

ELSAM, Palu – Indonesia mengalami masa-masa kelam ketika berada di bawah rezim Orde Baru. Berbagai praktik pelanggaran HAM yang terjadi sepanjang pemerintahan Soeharto, telah menimbulkan korban dan trauma yang berkepanjangan di seluruh Indonesia. Praktik pelanggaran HAM itu juga menghancurkan perekonomian korban dan keluarga korban karena diskriminasi. Beberapa korban dan keluarga korban pelanggaran HAM pada akhirnya masuk dalam jeratan rentenir untuk menghidupi keluarganya.

Untuk memulihkan dan memberdayakan perekonomian para korban dan keluarga korban pelanggaran HAM itu, ELSAM bersama Solidaritas Korban Pelanggaran HAM (SKPHAM) Sulawesi Tengah menggelar pelatihan dan perintisan pembangunan koperasi bagi korban dan keluarga korban pelanggaran HAM pada 28-29 Maret 2015. Pembangunan koperasi ini ditujukan untuk membantu menambah modal usaha yang selama ini dijalankan oleh para korban dan keluarga korban pelanggaran HAM.

Pelatihan selama 2 hari tersebut dihadiri oleh 21 orang, yang merupakan keluarga korban pelanggaran HAM, dari 4 kota/kabupaten di Sulawesi Tengah, yakni Sigi, Palu, Donggala dan Parigi Moutong

Dalam pelatihan tersebut, Rini Pratsnawati dari ELSAM menjelaskan konsep dan dasar-dasar pengelolaan koperasi. Saat ini, Rini juga merupakan Bendahara Koperasi Gemah Ripah, yang dibangun sebagai koperasi korban dan keluarga korban pelanggaran HAM di Jakarta. Untuk itu, Rini juga berbagi pengalaman mengenai pengelolaan koperasi Gemah Ripah, yang didirikan pada tahun 2012 lalu.

Di akhir pelatihan, para peserta sepakat untuk membentuk sebuah koperasi korban dan keluarga korban pelanggaran HAM, yang bernama Matuvu (dalam bahasa Indonesia artinya ‘hidup’). Koperasi itu dipimpin oleh Gaga Risman (keluarga korban peristiwa 1965), dan dibantu oleh Korta Desmayanto (SKPHAM Sulteng) sebagai Sekretaris dan Netty (keluarga korban peristiwa Poso) sebagai Bendahara []

Penulis: Ari Yurino




Artikel Terkait