PENGUATAN KORBAN <br> Koperasi Gemah Ripah: <br> Memberdayakan Perekonomian para Penyintas hingga Advokasi Penyelesaian Kasus Pelanggaran HAM Berat - Elsam.or.id PENGUATAN KORBAN
Koperasi Gemah Ripah:
Memberdayakan Perekonomian para Penyintas hingga Advokasi Penyelesaian Kasus Pelanggaran HAM Berat

Jum’at, 20 Februari 2015

ELSAM, Jakarta - Upaya advokasi penyelesaian pelanggaran HAM berat hingga saat ini tidak henti-hentinya diperjuangkan oleh para penyintas. Kemandegan proses penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM berat selama bertahun-tahun tidak melunturkan tekad para penyintas untuk mendorong pemerintah agar segera menyelesaikan proses tersebut. Namun di sisi lain, para penyintas juga mengalami masalah ekonomi keluarga yang juga harus diperjuangkan oleh mereka.

Untuk mengatasi permasalahan itulah, para penyintas berinisiatif untuk mendirikan sebuah koperasi pada 14 Juni 2012. Awalnya, anggota koperasi ini hanya beranggotakan 23 orang. Namun menjelang usianya yang ke 3, koperasi ini telah mengalami perkembangan, baik dari jumlah keanggotaan, pengelolaan simpanan anggota serta sisa hasil usaha.

Pada tahun ini, 93 orang telah menjadi anggota Koperasi para penyintas, yang bernama koperasi Gemah Ripah. Anggota koperasi Gemah Ripah juga sudah meluas, bukan hanya para penyintas saja, namun anggotanya hingga para keluarga korban dan individu-individu yang mendukung perjuangan para penyintas.

Selain mengalami peningkatan jumlah keanggotaan, koperasi yang dipimpin oleh Wanmayetty (Ketua IKOHI) ini juga mengalami peningkatan simpanan anggota. Pada tahun 2012-2013, simpanan anggota sebesar 17,1 juta, sementara pada tahun 2014 simpanan anggota menjadi 25,5 juta. Sisa hasil usaha yang dikelola oleh koperasi ini juga mengalami peningkatan, dari 1,7 juta pada tahun 2012-2013 menjadi 3,3 juta pada tahun 2014.

Koperasi ini sendiri didirikan dengan tujuan untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi para penyintas para pelanggaran HAM berat di Indonesia serta mendukung advokasi penyelesaian pelanggaran HAM berat. Pembangunan koperasi ini berawal dari keresahan para penyintas pelanggaran HAM berat yang harus berhadapan dengan permasalahan perekonomian keluarga mereka, selain memperjuangkan upaya penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat.

Penulis: Rini Pratsnawati

Editor: Ari Yurino


Artikel Terkait