PELANGGARAN HAM MASA LALU <br> Mendengar Suara Perempuan Korban 1965/66 di NTT - Elsam.or.id PELANGGARAN HAM MASA LALU
Mendengar Suara Perempuan Korban 1965/66 di NTT

Jum’at, 21 November 2014

ELSAM, Lewa – Sekitar 150 orang memenuhi Sekolah Tinggi Teologi (STT) Lewa, Sumba Timur pada Jum’at (21/11/2014) untuk menghadiri bedah buku “Memori-memori Terlarang.” Buku yang bercerita tentang perempuan korban dan penyintas 1965 di Nusa Tenggara Timur ini ditulis oleh Pdt. Yetty Leyloh, STh., Msi dan Pdt. Irene Umbu Lolo, STh., MTh.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh STT Lewa, bekerja sama dengan Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT) dan Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK), ini juga menghadirkan tiga orang penanggap, yakni Pdt. Alfret, STh, Matius Mesakh, STh dan Rini Pratsnawati dari ELSAM. Sementara moderator diskusi bedah buku tersebut adalah Ketua Jurusan Program Studi Teologia STT Sumba Pdt. Ningsih, MTh. Kegiatan ini juga dihadiri oleh para guru, pendeta, dosen, wakil dari DPRD Tingkat II Sumba Timur, wakil dari pemerintah daerah Sumba serta mahasiswa STT.

Setelah penulis/peneliti dan penanggap memberikan pandangannya terhadap peristiwa 1965 yang terjadi di Nusa Tenggara Timur, tanggapan beragam pun dilontarkan oleh peserta diskusi.

Perwakilan DPRD Sumba Timur mengakui adanya korban pada peristiwa 1965 di wilayah mereka dan mendukung upaya rekonsiliasi. Peserta diskusi yang lain pun menanggapi positif untuk membahas peristiwa 1965.

“Jika kita punya hati selayaknya kita mempunyai keberpihakan kepada para korban 1965/66,” ujar salah seorang peserta.

Sementara wakil bupati Sumba Timur merespon secara negatif pembahasan mengenai peristiwa 1965. Menurutnya, jika ingin menatap masa depan sebaiknya lupakan masa lalu yang kelam dari bangsa ini. Beberapa pendeta yang hadir pun juga masih memiliki kekhawatiran bahaya komunisme yang akan merongrong keberadaan gereja.

Diskusi yang mengangkat tema peristiwa 1965 di Sumba Timur, khususnya di Lewa, memang masih merupakan satu hal yang baru. “Memang masih sangat tabu dan sensitif,” kata Pdt. Irene Umbu Lolo.

Menurutnya, untuk menyelenggarakan diskusi tersebut, ia harus sangat berhati-hati dan sangat memperhatikan reaksi dari gereja-gereja yang menjadi ujung tombak masyarakat Lewa.

“Namun patut bersyukur dan bangga dengan diselenggarakannya diskusi ini sehingga kami dapat mengerti bagaimana pandangan gereja, anggota DPRD, pemerintah daerah, para pendeta, dan guru di daerah Lewa,” tambahnya.

 

Penulis: Rini Pratsnawati

Editor    : Ari Yurino




Artikel Terkait