PELANGGARAN HAM MASA LALU <br> Pertemuan Penyintas Peristiwa 1965 dan Siswa Labschool Kebayoran - Elsam.or.id PELANGGARAN HAM MASA LALU
Pertemuan Penyintas Peristiwa 1965 dan Siswa Labschool Kebayoran

Jakarta, 8 November 2014

ELSAM, Jakarta - Sekitar 80 siswa/i SMU Labschool Kebayoran memadati kantor ELSAM pada 8 November 2014 untuk mengikuti dengar kesaksian dari para penyintas peristiwa 1965. Acara yang digelar di halaman kantor ELSAM tersebut merupakan inisiatif SMU Labschool yang menugaskan siswa/i-nya untuk mewawancarai para penyintas pelanggaran HAM, khususnya dari peristiwa 1965.

ELSAM, sebagai organisasi yang juga mengadvokasi kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu, termasuk peristiwa 1965, mengundang tujuh penyintas peristiwa 1965. Tujuh penyintas tersebut antara lain Ibu Mujiati (eks tapol di Bukit Duri dan Plantungan); Ucikhowati (keluarga korban, ayah dan ibunya dipenjara); bapak Tedjo Bayu (eks tapol di Pulau Buru); Ibu Katri (tapol asal Klaten yang sempat berpindah-pindah penahanannya hingga akhirnya ditahan di penjara Bulu Semarang); bapak Kusnendar (eks tapol di pulau Buru); bapak Endang Darsa (eks tap di Salemba dan penjara Tangerang); dan bapak Hersutejo (dosen Unair yang menjadi eks tapol di Malang).

Kegiatan yang dimulai pada pukul 10.00 WIB ini dimulai dengan pemutaran film “Jembatan Bacem.” Dari film ini diharapkan siswa/i SMU Labschool mendapatkan gambaran awal mengenai tindakan pelanggaran HAM yang terjadi di peristiwa 1965. Setelah pemutaran film, para siswa/i dibagi ke dalam tujuh kelompok untuk berdiskusi bersama seorang penyintas. Dalam diskusi kelompok tersebut, para siswa/i menggali informasi mengenai apa yang dialami oleh para penyintas pada sebelum, saat dan setelah peristiwa 1965. Selain itu, para siswa/i juga menggali informasi mengenai apa yang mereka lakukan saat ini terkait perjuangan penuntasan kasus pelanggaran HAM masa lalu, khususnya peristiwa 1965.Dalam diskusi kelompok selama 30 menit tersebut, para siswa/i menuliskan kesaksian dari penyintas.

Kesaksian-kesaksian tersebut akhirnya diceritakan kembali oleh siswa/i yang menjadi perwakilan dari kelompok-kelompok itu. Penceritaan kembali pengalaman para penyintas oleh siswa/i menjadi sangat penting karena pada momen inilah kita mengetahui pemahaman para siswa/i terhadap kesaksian-kesaksian tersebut. Selain itu, penceritaan kembali ini diharapkan juga akan berlanjut terus di sekolah mereka bahkan hingga ke keluarga mereka.

Transformasi pengalaman dari para penyintas kepada generasi muda tentunya menjadi sangat penting untuk dilakukan agar pemahaman sejarah bagi generasi muda menjadi utuh. Selain itu, transformasi pengalaman tersebut juga diharapkan akan mampu mencegah terjadinya kembali pelanggaran-pelanggaran HAM yang serupa di kemudian hari. (Rini/AY)




Artikel Terkait