KEBEBASAN BEREKSPRESI <br> Lebih Bijak di Media Sosial - Elsam.or.id KEBEBASAN BEREKSPRESI
Lebih Bijak di Media Sosial

Minggu, 14 September 2014

Bisnis.com, JAKARTA - Tampil dengan gaun hitam elegan Rahmah Umayya memandu sebuah acara peragaan busana . Selesai dengan pekerjaannya , Rahmah menggambil ponsel untuk bertukar kabar sekaligus mengintip kabar di media sosial.

Di dalam ponselnya terdapat lebih dari 10 aplikasi social media (sosmed) antara lain Facebook, Line, Instagram, Twitter, Path, danPinterest. ”Banyak ya ternyata, tetapi yang paling aktif itu Instagram, Twitter, dan Facebook,” ujar wanita cantik kelahiran 20 Desember ini. Di mata Rahmah, beragam aplikasi sosmed punya keunggulan masing-masing.

Melalui akun Twitter @rahmahumayya, dia kerap berbagi informasi dan aktivitasnya kepada lebih dari 42.000 follower-nya. Sejak menggunakanTwitter pada Juni 2009, Rahmah sudah bercuit 12.600 kali.

Lain Twitter, lain pula Instagram dan Path. Dua sosmed itu, digunakan Rahmah khusus untuk berbagi kabar, pemikiran, informasi, dan foto-foto dengan teman, kolega, dan keluarga terdekat.

”Kalau private life, aku lebih sering posting di Instagram. Itu masih tertutup untuk publik karena orang tua atau teman-teman terdekat mungkin tidak ingin kehidupan pribadinya ikut diumbar-umbar,” kata Rahmah.

Fenomena social media juga dialami penyanyi sekaligus pencipta lagu Glenn Fredly Deviano Latuihamallo. Menurutnya, sosmed telah menjadi sarana dan kanal untuk berbicara, menyampaikan pendapat dan pemikiran secara bebas sebagai bagian dari reformasi dan demokrasi.

Akun Twitter milik Glenn Fredly @glennfredly kini diikuti 1,85 jutafollowers dengan jumlah twit lebih dari 15.500 kali.

Glenn memanfaatkan Twitter sebagai media berbagi pendapat, sekaligus promosi karya dan acaranya. Salah satunya lewat twit yang di-posting pada Sabtu (6/9), ”Next project!!”@anggasasongko: Ini teaser pertama film ”Filosofi Kopi” dr buku @deelestari.”

Baik Rahmah maupun Gleen mengerti betul bagaimana memanfaatkan sosmed untuk mendukung posisi mereka. Publik juga paham betapa para politikus gencar menggunakan sosmed untuk memperkuat pengaruh mereka.

Pengelola bisnis pun demikian. Bisa jadi sosmed dan keterjangkuan harga smartphone serta tarif layanan data juga lah yang ikut mempercepat penetrasi Internet di Indonesia.

Saat ini penggunanya memang baru mencapai 72,3 juta orang atau 29% dari total populasi dan sebagian besar mengakses Internet secara mobile.

Namun, prospeknya sangat tinggi. Selain itu, pengguna Internet di Tanah Air juga senang bersosial di ranah maya. Akun yang dimiliki pun tak cukup satu, pengguna senang memiliki beberapa akun sekaligus dan tersebar di beberapa platform.

Pengguna Facebook di Indonesia bahkan mencapai 69 juta orang pada Juni 2014, padahal menurut survei Nielsen, hanya 23% pemilik smartphone yang bisa dipakai untuk mengakses jaring sosial terbesar itu.

Wahyudi Djafar, Peneliti Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam) menganggap bahwa pilihan untuk menggunakan beragam platform media sosial tentu tidak hanya pertimbangan eksistensi, tetapi memang ada pergeseran dalam cara berkomunikasi.

Jika dahulu mengandalkan lisan, sekarang bergeser ke media sosial. ”Platform ini dinilai lebih efektif saat ini, sebagai contoh kampanye politik pun sekarang massif menggunakan perangkat ini,” tuturnya.

Adapun Lukas Ispandriarno, pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Atmajaya DI Yogyakarta, menyebutkan seseorang merasa harus mempunyai beragam jenis media sosial lebih disebabkan karena ketersediaan media tersebut sebagai akibat kemajuan teknologi komunikasi.

Faktor lain, lanjutnya adalah karena semacam gengsi ketika orang lain menggunakan sebuah ragam media social yang lebih canggih atau baru, apalagi media ini dipakai orang terkenal. Jadi, gabungan antara penawaran pasar dengan gengsi.

ETIKA SOSIAL

Menurut Lukas, yang juga Ketua Masyarakat Peduli Media tersebut, meyakini berperilaku di media sosial tak ubahnya dengan berperilaku di dunia nyata (face-to-face) yaitu memakai etika atau sopan santun.

”Sayangnya beberapa kelompok orang Indonesia merasa berperilaku di media social itu bebas tanpa etika, apapun bisa, sebagai ekspresi kebebasan,” ujarnya.

Ketiadaan etika di dunia maya ini lah yang membuat sosmed seperti dua sisi mata uang. Di tangan artis Rahmah dan Glenn begitu bermanfaat, tetapi bisa jadi kurang menguntungkan di tangan orang lain.

Kasus terbaru adalah Florence Sihombing lewat akun Path miliknya yang dianggap menghina DI Yogyakarta dan pemilik akun Twitter@kemalsept yang dinilai melecehkan Kota Bandung.

”Soal sejauh mana batasan etika, tentu itu subjektif komunitas. Namun, hal yang Harus ditekankan adalah bersikap bijaklah ketika akan memposting sesuatu di media sosial. Kritik boleh, tetapi bukan menyerang reputasi pihak lain,” ujar Wahyu.

Psikolog Ratih Ibrahim menambahkan berperilaku di media sosial mencerminkan cara berpikir, tata krama hingga tingkat intelejensia. Hal-hal yang harus dihindari antara lain mencemarkan nama baik atau melakukan pembunuhan karakter.

Selain itu, hal-hal yang berbau pornografi dan kekerasan juga dihindari pada saat berbagi sesuatu di media sosial karena akan membuat orang lain merasa tidak suka.

Negara hadir di dunia sosmed ini melalui Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik mengatur beberapa perbuatan yang dilarang yakni konten yang mengandung keasusilaan, ancaman kekerasan, penghinaan dan pencemaran nama baik, serta penyebaran kebencian berlatar SARA.

Meski demikian, penegakkan UU ITE dan keberadaan produk hukum ini terus menimbulkan pro dan kontra. Elsam menemukan sedikitnya 35 orang sejak 2008 berurusan dengan aparat hukum akibat postingannya di media sosial. Sebagian besar tersandung pencemaran nama baik dalam Pasal 27 Ayat 3 U ITE.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Ismail Cawidu mengakui Pasal 27 Ayat 3 UU ITE itu sebetulnya masih multitafsir karena tidak secara khusus mengatur para pengguna media sosial.

Sebenarnya, menurut Ismail, pengguna seperti Florence sudah cukup mendapatkan sanksi sosial yaitu ditegur atau dihujat. Sanksi pidana dinilainya terlalu berat. Secara umum UU ITE lebih ditujukan untuk memperlancar kegiatan bisnis. Kemenkominfo menilai bisa jadi diperlukan aturan yang lebih detail mengenai media sosial agar terdapat landasan hukum yang jelas.

Lalu kapan aturan semacam itu direalisasikan? ”Mungkin nanti tunggu menteri yang baru,” papar Ismail.

Wahyu mengamini Pasal 27 ayat (3) yang mengatur ancaman pidana penghinaan dan pencemaran nama baik perlu mendapat perhatian. Selama ini pasal itu menjadi mekanisme pembalasan dendam.

Pasal tersebut menciptakan efek ketakutan terhadap kebebasan berpendapat dan berekspresi. Orang menjadi merasa khawatir dan terancam, ketika akan memposting sesuatu, ekspresinya tidak merdeka.

Permasalahan lainnya adalah minimnya pengaturan konten, khususnya yang terkait dengan kategori konten yang dilarang dan bagaimana prosedur penangannya (filtering and blocking), sehingga dalam beberapa kasus masih terjadi over blocking (tindakan salah blokir).

Selain itu, pengguna sosmed sebaiknya melindungi privasi masing-masing. Kejahatan mengancam mereka jika terlalu mengekspose privasi di depan publik. ”Misalnya memposting sesuatu yang sifatnya privat seperti tanggal kelahiran, nomor telepon seluler, ditautkan dengan kedua orang tua, memasang foto anak secara berlebihan, tengah berada di mana,” ujar Wahyu.

Dia menjelaskan sebaiknya tidak mencantumkan nama dan tanggal kelahiran di akun sosmed, apalagi jika langsung terkait dengan akun media social anak atau ibu kandung yang menggunakan nama asli di sana.

Apabila suatu saat, buku tabungannya hilang, pihak lain akan dengan mudah membobol rekening orang tersebut karena hanya tinggal menyebutkan tanggal lahir dan nama ibu kandung.

”Jadi pahamilah pilihan privasi, itu bukan hanya sekadar pelengkap, tetapi dimaksudkan untuk melindungi pengguna,” kata Wahyu.

Fitur privacy option seperti yang terdapat pada Twitter atau Facebookmemang cukup memadai, tetapi pekerjaan rumahnya adalah bagaimana pengguna bisa memahami dan menggunakan fiturfitur tersebut. Jadi bijaklah menggunakan media sosial. (PUPUT ADI SUKARNO/TISYRIN NAUFALTY T./LUTFI ZAENUDIN)


Sumber: http://koran.bisnis.com/read/20140914/250/257114/lebih-bijak-di-media-sosial




Artikel Terkait