PELANGGARAN HAM MASA LALU<br> Youth in Action! 2014: Saatnya Anak Muda Peduli - Elsam.or.id PELANGGARAN HAM MASA LALU
Youth in Action! 2014: Saatnya Anak Muda Peduli

Penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) tidak mengenal dimensi ruang waktu. Siapapun dan dimanapun perlu menyadari pentingnya HAM sebagai akar harkat dan martabat manusia. Ide tersebutlah yang menjadi landasan diselenggarakannya Youth In Action! 2014 yang diusung oleh sekumpulan komunitas anak muda dengan merangkul Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lainnya. Tidak tanggung-tanggung, acara ini bahkan diselenggarakan di 9 (sembilan) kota di Indonesia secara berurutan. Untuk di Jakarta, acara tersebut diselenggarakan di lingkungan kampus Universitas Paramadina. Sebagai lembaga yang tekun berikhtiar menjaga dan melindungi penegakan HAM, Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) turut berkontribusi dengan menyiapkan sebuah panel diskusi pada hari Sabtu, 7 Juni 2014 bertempat di Auditorium Nurcholish Majid, tentang penghilangan paksa yang dikemas dalam judul ‘Move On from The Past!’.

Melalui diskusi tersebut, ELSAM berusaha menyadarkan anak-anak muda Indonesia atas terbengkalainya kasus pelanggaran HAM masa lalu berupa penghilangan paksa yang marak terjadi pada periode kelam sejarah Indonesia, yaitu tahun 1998-1999. Penghilangan paksa sendiri merupakan tindakan yang dilakukan sekelompok orang untuk menimbulkan teror di samping berusaha menghilangkan orang-orang yang dirasa memiliki posisi politik membahayakan. ELSAM ingin menegaskan keunikan yang terkandung dalam kejahatan penghilangan paksa, dimana kejahatan ini tidak dapat dikatakan sudah selesai kecuali korban yang dihilangkan berhasil diketahui keberadannya. Padahal, selama periode mencari dan menerka dimana keberadaan orang yang dihilangkan berada, penderitaan baik secara psikologis, ekonomis, dan administratif yang dirasakan keluarga korban sangatlah masif. Ironisnya, masalah ini tak pernah benar-benar diselesaikan oleh negara sehingga keluarga korban berlarut dalam ketakutan dan keputusasaan. Situasi miris inilah yang berusaha ELSAM tunjukkan kepada masyarakat, anak-anak muda khususnya, agar mereka tersadar pentingnya suara dan perhatian dalam mendorong penyelesaian kasus yang bersangkutan.

Dalam panel diskusi tersebut, ELSAM menghadirkan beberapa narasumber yaitu Hilmar Farid, sejarahwan dan aktivis sosial yang menaruh perhatian pada kasus penghilangan paksa, dan Fitri Nganti Wani, anak dari aktivis sastrawan Wiji Thukul yang hingga saat ini tidak diketahui keberadaannya. Dalam kesempatan tersebut, Hilmar Farid menjelaskan tentang sejarah terjadinya penghilangan paksa, pola yang sering diterapkan, hingga proses penyelesaian secara hukum yang tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat. Fitri Nganti Wani bercerita dari kacamata yang lain, yaitu kacamata keluarga korban yang ditinggalkan dengan kompleksitas tekanan psikologis, ekonomis, dan asministratif. Dalam acara tersebut, para peserta nampak antusias dalam merespon pembahasan di dalam sesi tanya-jawab. Diskusi tersebut dibuka dan diselingi penampilan musik dari Fajar Merah, putra dari Wiji Thukul dan ditutup dengan kolaborasi musikalisasi puisi Wani dan Fajar.















Acara pada hari tersebut berhasil menyedot atensi para kawula muda mengingat kasus penghilangan paksa sendiri adalah cerita yang tak pernah ada habisnya. ELSAM berharap, panel diskusi tersebut dapat menghidupkan jiwa kemanusiaan para peserta sehingga mereka mau melibatkan diri dalam upaya mendorong penyelesaian pelanggaran HAM, karena sebenarnya sudah banyak yang mengakui kebenaran terjadinya peristiwa tersebut namun masih sangat sedikit yang berani bersuara. (veda)

 



 




Artikel Terkait