Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan<br> Mengapa Kekerasan Berlatar SARA Selalu Berulang? - Elsam.or.id Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan
Mengapa Kekerasan Berlatar SARA Selalu Berulang?

 

JAKARTA- Kekerasan berlatar belakang Suku, Agama, Ras, dan antargolongan (SARA) kembali terjadi di Yogyakarta. Sekelompok umat Katolik yang sedang menjalani ibadat rosario tiba-tiba diserang oleh sekelompok orang berjumlah 8-10 orang.

Mereka merusak rumah tempat acara ibadat berlangsung. Seorang Wartawan Kompas TV Michael Aryawan atau yang biasa disapa Mika turut menjadi korban penyerangan tersebut. 

Menurut program officer Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam), Adiani Viviana, kekerasan berlatar SARA di Yogyakarta itu menunjukkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ternyata belum mampu untuk menghilangkan dan menghapus segala bentuk intoleransi dan kekerasan berbasis agama. “Berbagai penyerangan dan kekerasan terus saja terjadi di berbagai daerah dan ditujukan terhadap kelompok-kelompok agama minoritas,” kata dia, Sabtu (31/5/2014).

Kata Dia, tindak kekerasan berbasis agama yang dilakukan terhadap jemaat di Yogyakarta merupakan pelanggaran terhadap hukum dan Konstitusi UUD 1945 yang menjamin setiap warga negara untuk beragama dan berkeyakinan tanpa ada gangguan dan halangan dari siapapun. “Tidak  seorangpun atau kelompok manapun berhak untuk menghalang-halangi, apalagi membubarkan dengan kekerasan ibadah atau ritual agama atau kepercayaan kelompok lain,” ujar dia.

Negara sebagai pemangku kewajiban atas penghormatan dan perlindungan hak asasi, kata dia, berkewajiban mengusut tuntas tindakan anarki massa intoleran tersebut.  “Selain mencegah peristiwa serupa terjadi di masa yang akan datang, Negara dalam hal ini SBY harus memerintahkan Kapolri dan Kapolda DIY untuk memproses hukum secara tegas terhadap pelaku  yang melakukan tindak kekerasan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Adiani menambahkan, tindak kekerasan berbasis agama yang telah sering terjadi, memiliki pola-pola yang sama. “Demikian juga pola penyelesaiannya. Aparat cenderung menyeret pelaku lapangan dengan hukuman ringan. Tanpa mengusut tuntas otak pelaku tindakan. Sebaliknya memperlakukan korban secara diskriminatif, bahkan mengkriminalisasi. Padahal, tidak ada kasus yang sama persis. Melainkan mirip,” ungkapnya.

Sehingga tiap-tiap penyelesaian kasus berbeda-beda. Aparat penegak hukum harus meningkatkan dan mempertimbangkan rasa keadilan yang lebih.  Lantas mengapa kekerasan berlatar SARA selalu berulang?

Menurutnya, salah satu faktor yang memicu berulangnya peristiwa-peristiwa intoleran adalah, karena gagalnya aparat penegak hukum dalam memeriksa kasus tersebut. “Pola itu seakan melegalkan dan melanggengkan kekerasan-kekerasan berbasis agama karena pelakunya bebas melenggang,” paparnya.

Dia menegaskan, kebebasan menjalankan ibadah tiap-tiap orang sesuai keyakinannya secara terang dijamin dalam Konstitusi Pasal 29 ayat (2), UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM Pasl 22 ayat (1), (2), dan (55).

Negara juga telah memberikan jaminan kebebasan tersebut melalui Pasal 18 ayat (1) UU No 12 Tahun 2006 tentang Pengesahan ICCPR. “Setiap orang berhak atas kebebasan berfikir, berkeyakinan, dan beragama. Hak ini meliputi kebebasan untuk memeluk suatu agama atau kepercayaan pilihannya sendiri dan kebebasan baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain secara terbuka atau pribadi, menjalankan agama atau kepercayaannya dalam kegiatan beribadah, mentaati, mengamalkan dan pengajaran,” jelasnya. (ugo)

sumber: http://jogja.okezone.com/read/2014/05/31/510/992200/mengapa-kekerasan-berlatar-sara-selalu-berulang



Artikel Terkait