Pemutaran Film Jembatan Bacem di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto - Elsam.or.id Pemutaran Film Jembatan Bacem di Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Senin, 20 Januari 2014, ELSAM bekerja sama dengan Rhizome UNSUD, Himakom (Himpunan Mahasiswa Komunikasi)  dan YPKP HAM mengadakan  diskusi dan pemutaran Film Jembatan Bacem. Film Dokumenter karya Yayan Wiludiharto berdurasi setengah jam ini bercerita tentang tiga orang saksi korban dan seorang yang lolos dari pembantaian di Jembatan Bacem.

Pak Mulyadi mantan guru  bercerita tentang bon-bonanyang terjadi di Kamp Penahanan Sasono Mulyo salah satu bangunan milik Kasunanan Solo, Almarhum Pak Bibit bercerita tentang pengalamannya bagaimana di bawah tekanan aparat dia harus menghanyutkan bangkai manusia setelah malamnya dieksekusi.


Sasono Mulyo.

Pak Barjo korban yang selama ini sudah menjadi topik pembicaraan dalam pertemuan-perteman dengan kelompok korban,  karena beliau adalah korban yang lolos dari pembunuhan di jembatan Bacem. Dalam film  ini, Arip Hidayatullah seorang seniman muda melalui ilustrasi sketnya berhasil menggambarkan tentang bagaimana aparat menghilangkan nyawa korban. 

Korban lain adalah Martin, ayahnya hilang sekitar bulan September 1966 bersama dengan 71 orang lainnya, pada waktu itu ibunya pergi mencari ayahnya yang ditahan di Penjara Slamet Riyadi Solo, aparat mengatakan bahwa ayahnya sudah tidak ada dipenjara, karena semalam sudah dibon. Martin percaya  bahwa ayahnya ditelah dieksekusi di Jembatan Bacem. Dalam acara Sadranan yang diadakan ELSAM, ISSI dan Pakorba Solo, Martin hadir untuk menabur bunga dan mengirim doa untuk ayahnya. 

Sadranan adalah sebuah ritual tata cara adat Jawa, yang  jatuh di bulan Ruwah dalam kalender Jawa, saat itu keluarga menabur bunga dan mengirim doa untuk sanak keluarga yang telah tiada. Pada kesempatan sadranan ini untuk pertama kali keluarga korban mengungkapkan keinginan untuk mengenang  yang telah tiada setelah 40 tahun hidup dalam diam.

Kegiatan Diskusi dan Pemutaran Film ini diadakan di Ruang Soemarno B FISIP UNSOED, dan dibuka oleh Bapak Ali Rockman, MSi, Phd.  Undangan Pemutaran film ini sengaja  dikhususkan untuk mahasiswa dan generasi muda, dengan tujuan Mahasiswa dapat melihat sejarah peristiwa 1965/1966 dari sisi korban, yang kedua setelah melihat film Jembatan Bacem, mereka dapat berfikir kritis terhadap sejarah peristiwa 1965/1966, yang ketiga mereka dapat menarik pelajaran dari Film ini. Diskusi ini dihadiri oleh lebih 40 orang mahasiswa baik laki-laki dan perempuan. Dalam diskusi ini salah seorang mahasiswa  bertanya mengapa stigma PKI sampai sekarang masih melekat pada korban?

Stigmatisasi adalah sistem  yang digunakan rezim otoriter untuk melanggengkan kekuasaannya, hal tersebut dikenakan juga pada korban yang lain seperti korban peristiwa Mei 1998, setelah mereka menjadi korban mereka dicap sebagai penjarah, akibatnya para korban dikucil dalam kehidupan sosialnya. Namun menurut data TRK sebagian korban adalah adalah anak-anak. [RN]

 

http://issuu.com/harmas./docs/harian_banyumas_18_januari_2014?e=0




Artikel Terkait