Anak-Anak Tim-Tim di Indonesia: Sebuah Cermin Masa Kelam = Making Them Indonesian: Child Transfer out of East Timor - Elsam.or.id Anak-Anak Tim-Tim di Indonesia: Sebuah Cermin Masa Kelam = Making Them Indonesian: Child Transfer out of East Timor Oleh Helene van Klinken

Penulis: Helene van Klinken
Penerjemah: Nugraha Katjasungkana
Penyunting: Christina M. Udiani
Diterjemahkan dari edisi bahasa Inggris berjudul Making Them Indonesian: Child Transfer out of East Timor. Diterbitkan pertama kali oleh Monash University Publishing, 2012 di Victoria, Australia.
Edisi bahasa Indonesia diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2013.
Penerbitan didukung oleh ELSAM (Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat) dan Umverteilen.

Buku ini berkisah tentang pemindahan 61 “anak yatim-piatu” pada akhir dasawarsa 1970-an ke lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, yang dilaksanakan atas inisiatif Presiden Suharto. Anak-anak ini dibawa ke Indonesia segera sesudah dilakukannya perang skala penuh oleh militer Indonesia untuk mendesak orang Timor Timur keluar dari tempat-tempat persembunyian mereka di gunung-gunung dan memasuki kontrol Indonesia. Pemindahan ini mempertunjukkan kemurah-hatian Indonesia kepada orang Timor Timur yang menerima integrasi, tetapi sekaligus melayani tujuan propaganda Indonesia yang menunjukkan bahwa rakyat Timor Timur menginginkan integrasi dan membenarkan keterlibatan militer Indonesia demi orang-orang yang menderita dalam perjuangan ini.

Orang-orang Indonesia yang memindahkan anak-anak ke Indonesia menganggap niat mereka itu baik, tetapi mereka tidak digerakkan oleh keprihatinan perikemanusiaan semata. Seperti yang diuraikan dalam bab 3 sampai 6, ketika konteks sejarah dan politik berubah, begitu pula sifat dari pemindahan anak-anak dan motivasi yang mendorongnya. Hubungan kolonial, pada intinya, adalah mengenai bagaimana mempertahankan hegemoni penjajah, dan ini tercerminkan dalam pemindahan anak-anak, dalam mana keprihatinan perikemanusiaan untuk kesejahteraan anak-anak dikaitkan dengan dan melayani kepentingan nasional dan ideologis, dan kepentingan diri-sendiri.

“Laporan para orangtua di barak-barak pengungsian memberikan kesaksian bahwa ada begitu banyak anak-anak Timor Timur dibawa keluar dari daerah pengungsian dengan alasan misi kemanusiaan ada yang dibawa ke pulau Jawa, Kalimantan dan sebagian ke Pulau Sumatera, yang dilakukan oleh banyak organisasi sosial kemanusiaan.

Rendahnya komitmen negara dalam pemenuhan hak anak termasuk hak anak untuk dipersatukan kembali pada keluarganya dapat kita lihat dari beberapa sudut dan perspektif. Salah adalah ialah sejauh mana negara dalam menciptakan pengaturan dan kebijakan yang sesuai dengan komitmen dasar hak asasi manusia, serta mampu mendorong tegaknya hak asasi manusia termasuk hak-hak anak.

Namun apa yang diuraikan dalam kisah nyata dalam buku ini sangatlah bertentangan dengan apa yang diaturkan dalam Konvensi Hak Anak maupun kovenan-kovenan international lainnya yang wajib dijamin oleh pemerintah menyangkut tentang keberadaan anak dalam situasi darurat. Dalam buku diceritakan ada banyak penderitaan anak yang tercerabut dari akar budayanya sendiri sebagai bagian integral dari hak asasi manusia, dengan berbagai alasan kemanusiaan dan alasan politis lainnya. “

[Arist Merdeka Sirait dalam pengantar buku edisi bahasa Indonesia]




Artikel Terkait