PERINGATAN 20 TAHUN ELSAM <br> Memperingati Duapuluh Tahun Elsam, Meneguhkan Perjuangan HAM - Elsam.or.id PERINGATAN 20 TAHUN ELSAM
Memperingati Duapuluh Tahun Elsam, Meneguhkan Perjuangan HAM

Sehari setelah hari HAM Internasional, Elsam menyelenggarakan Malam Peringatan Hari HAM, Rabu (11/12), yang sekaligus memperingati 20 tahun perjalanan Elsam. Bertempat di Auditorium Adhiyana Wisma Antara, acara ini dihadiri lebih dari 200 tamu dan undangan. Acara bertajuk “Hak Asasi Manusia dan Kehidupan Berbangsa” ini diisi dengan pemutaran film perjalanan 20 tahun Elsam dan pidato kebangsaan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Sidharto Danusubroto. Di penghujung acara, salah satu pendiri Elsam Abdul Hakim Garuda Nusantara membawakan refleksi perjalanan 20 tahun Elsam.

Dalam pidato sambutannya, Direktur Eksekutif Elsam Indriaswati D. Saptaningrum  mengatakan persoalan klasik seperti penyalahgunaan kekuasaan, kekerasan oleh aparatur negara, dan praktik penyiksaan hari ini kembali menjadi dari tantangan serius yang dihadapi Elsam. Praktik rezim otoritarian tumbuh subur seiring dengan menguatnya kontrol negara atas organisasi masyarakat sipil dan kebebasan berekspresi di dunia maya.

Untuk itu, menurutnya, merawat ruang kebebasan dan keberagaman penting untuk terus dilakukan agar proses transisi tidak surut ke belakang kembali, tanpa mengesampingkan persoalan-persoalan HAM lainnya—dari penyerobotan tanah-tanah rakyat hingga tumbuh suburnya kekerasan sekelompok masyarakat terhadap masyarakat lainnya. Ketika negara melakukan pembiaran dan bungkam atas tuntutan keadilan para korban, Elsam harus terus menemukan strategi untuk memastikan dan memperkuat jaminan perlindungan HAM.

Ketua MPR RI Sidharto Danusubroto melalui pidato kebangsaannya menganggap penting penyelesaian pelanggaran HAM. “Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, tidak adanya penyelesaian pelanggaran HAM membuka pintu untuk munculnya kekerasan serta pelanggaran HAM yang baru pada masa sekarang”, ujarnya. Untuk itu, menurutnya, proses pengungkapan kebenaran dan proses rekonsiliasi serta penyelesaian kasus pelanggaran HAM tidak boleh berhenti meskipun UU Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam kaitannya dengan rekonsiliasi, Sidharto mengungkapkan pentingnya dilakukan rehabilitasi terhadap para korban.

Duapuluh tahun yang lalu, tepat pada tanggal 14 Agustus, Elsam secara resmi didirikan. Berawal dari kegelisahan dan semangat melawan tirani, Elsam mengambil posisi diametral dengan pemerintah yang mengagungkan pembangunan dengan alas senapan dan pembungkaman ekspresi. Lima belas tahun pasca-reformasi, Elsam belumlah purna tugas. Pelanggaran HAM masih terus berlangsung hingga hari ini. Seperti yang dikatakan Indriaswati D. Saptaningrum, mengutip Navy Pillay, “Kita akan terus vokal menyuarakan pelanggaran HAM, mendorong negara untuk menjamin agar kesalahan tragis di masa lalu tidak akan terulang dan HAM akan terus terlindungi.” (Ham)




Downloads
Artikel Terkait